Rabu, 19 Januari 2011

LAporan ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI

Posted by For Indonesiaku 15.46, under | 1 comment

ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI

TUJUAN
Mahasiswa dapat membuat larutan HCl 0,1 N
Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0,1 N
Mahasiswa dapat membuat larutan NaOH 0,1 N
Mahasiswa dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0,1 N
Mahasiswa dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel)

DASAR TEORI
Asidimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan asam sebagai larutan asam sebagai larutan
Standart.
Alkalimetri : Analisis (volumetri) yang menggunakan alkali (basa) sebagai larutan asam sebagai
larutan standart.

Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses atau operasi analisis hanya digunakan untuk mengetahui atau mengidentifikasi penyusun-penyusun dari suatu zat dan pengembang-pengembang metoda-metoda pemisahan masing-masing penyusun yang terdapat dalam suatu campuran. Analisis anorganik secara kuantitatif yaitu proses analisis untuk menentukan atau mengidentifikasi banyaknya atau perbandingan banyaknya tiap-tiap penyusun yang terdapat suatu zat atau persenyawaan.

Secara garis besar, analisis kuantitatif terbagi menjadi :
1.Analisis berdasarkan Gravimetri.
2.Analisis berdasarkan Volumetri.

Analisis secara Volumetri adalah analisis kimia kuantitatif utuk menentukan banyaknya volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti yang bereaksi secara kuantitatif dengan larutan/zat yang akan kita tentukan konsentrasinya.
Larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti disebut Larutan Standart, larutan standart ini tiap liternya mengandung sejumlah gram ekivalen tertentu. Banyaknya zat yang akan ditentukan konsentrasinya dapat dihitung dari banyaknya volume standart dengan hukum ekivalen biasa.
Proses penambahan larutan standart ke dalam larutan yang akan ditentukan normalitasnya sampai terjadi reaksi yang sempurna disebut Titrasi. Sedang larutan yang akan ditentukan normalitasnya disebut larutan yang dititrasi. Saat dimana terjadi reaksi yang sempurna tercapai disebut saat Titik Ekivalen atau titik Stoikiometri biasanya titik akhir titrasi disebut juga titik akhir teoritis. Titik akhir titrasi ini dapat dilihat denga adanya perubahan warna yang terdapat dalam larutan yang dititrasi. Perubahan warna dalam larutan ini akan lebih jelas bila dalam proses titrasi ditambahkan sedikit indicator.

Reaksi dalam analisis volumetri terbagi menjadi :
Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi, hanya penggabungan ion-ion saja.
Reaksi-reaksi yang tidaj menimbulkan / mengakibatkan terjadinya perubahan valensi, misalnya pada reaksi Oksidasi dan Reduksi.
Proses titrasi Asidimetri dan Alkalimetri merupakan salah satu proses titrasi netralisasi. Asidimetri suatu titrasi terhadap larutan-larutan basa bebas atau garam yang berasal dari basa lemah dengan larutan standart asam.Dalam proses ini yang terjadi adalah penggabungan antara ion-ion H+dengan ion-ion OH- membentuk molekul air.
Sedang alkalimetri adalah suatu proses titrasi larutan-larutan asam bebas atau larutan-larutan garam yang berasal dari asam lemah dengan larutan standar basa. Dalam perhitungan selanjutnya kita gunakan persamaan antara volume dan konsentrasi masing-masing zat yang dititrasi dengan zat penetrasinya dan berlaku rumus sebagai berikut :

V1 x N1 = V2 x N2

Dimana,
V1 : Volume zat penetrasi/standar (ml)
N1 : Normalitas zat penetrasi/standar (gram ekivalen/liter)
V2 : Volume zat yang dititrasi/dicari N nya (ml)
N2 : Normalitas zat yang dititrasi/dicari N nya (gram ekivalen/liter)

Sedangkan reaksi-reaksi yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi akan dibahas tersendiri dalam praktikum yang menggunakan zat kimia bersifat oksidator/reduktor seperti Iodometri dan Iodimetri.

ALAT DAN BAHAN
ALAT :
Buret 7. Pipet gondok
Sendok sungu 8. Pipit ukur
Gelas arloji 9. Bulbpet
Labu takar 10. Erlenmeyer
Corong 11. Gelas beker
Pipet tetes 12. Neraca timbang

BAHAN :
NaOH Kristal 5. Natrium Borat kristal
HCl pekat 6. Indikator MO dan PP
H2SO4 pekat 7. Aquadest
Asam oksalat

CARA KERJA
1. Membuat larutan NaOH 0,1 N
NaOH sebanyak 1,091 ditimbang dengan gelas arloji (sesuai dengan perhitungan).
NaOH tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml, kemudian ditandabataskan.
Disimpan di dalam botol dan ditutup rapat-rapa.

2. Penentuan normaitas larutan NaOH 0,1 N dengan Asam Oksalat.
Kristal asam oksalat (H2C2O4 )ditimbang sebanyak 0,632 gram.
Dilarutkan dengan air murni dalam labu takar 100 ml, kemudian ditandabataskan.
Sebanyak 25 ml larutan asam oksalat tersebut dimasukkan dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes indicator PP.
Dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N (yang akan dicari normalitasnya).
Dititrasi ulang 2-3 kali.

Membuat larutan HCl 0,1 N
HCl pekat dianbil sebanyak 0,83 mL.
HCl pekat dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL, kemudian ditambah dengan aquadest.
Larutan dikocok sampai homogen, kemudian ditandabataskan.
Cara menghitung (X) ml HCl sebagai berikut:
x=(N x V x M)/(10n x K x L)
Dimana ,
X : Banyaknya HCl yang diambil ( ml )
N : Normalitas larutan HCl yang dibuat ( 0,1 N )
V : Volume asamyang dibutuhkan ( 100 ml )
M : Berat molekul asam ( HCl = 36,5 )
n : Valensi asam ( HCl = 1 )
L : Berat jenis asam ( HCL = 1,3-1,4 )
K : Kadar asam HCl ( %= 35-36 )
4. Penentuan Normalitas HCl 0,1 N
Larutan natrium Borat 0,1 N dibuat sebanyak 100 ml (sesuai perhitungan).
Larutan HCl (yang dibuat) diambil sebanyak 25 ml dan ditambahkan 3 tetes indikator MO.
Larutan HCl tersebut dititrasi dengan Natrium Borat yang dibuat.
Dititrasi ulang 2-3 kali.
Ditentukan Normalitas asam tersebut.

Penentuan larutan sampel
Sebanyak 25 mL sampel yang sudah disediakan dimasukkan kedalam Erlenmeyer.
Indikator PP ditambahkan sebanyak 3 tetes.
Dititrasi dengan larutan NaOH standart.
Titrasi diulang sampai 3 kali.
Ditentukan normalitas sampel tersebut.

DATA PENGAMATAN
҉ Pembuatan NaOH 0,1 N
BM NaOH : 40,0 g/mol
Berat NaOH : ± 1,091 gram
Volume NaOH : 250 ml
҉ Standarisasi Normalitas lautan NaOH dengan garam asam oksalat ( H2C2O4 )
Massa oksalat : 0,632 gram
BM oksalat : 126,07 gram/mol
Volume pengenceran : 100 ml
NO. Volume Oksalat Indikator Volume NaOH Perubahan warna
1. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih  merah muda
2. 25 ml PP 3 tetes 23,6 ml Jernih  merah muda
3. 25 ml PP 3 tetes 24 ml Jernih  merah muda

҉ Pembuatan larutan HCl 0,1 N
Volume diambil HCl : 0,83 ml
BM HCl pekat : 36,5 g/mol
BD HCl pekat : 1,19 gr/ml
Prosen HCl pekat : 37 %
Volume pengenceran : 100 ml
҉ Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7
Massa Borat : 1,903 gram
BM Borat : 381,37 g/mol
Volume pengenceran : 100 ml
NO. Volume HCl Volume Na2B4O7 Indikator Perubahan warna
1. 25 ml 30,4 ml MO 3 tetes Kuning  Orange
2. 25 ml 30,3 ml MO 3 tetes Kuning  Orange
3. 25 ml 30,9 ml MO 3 tetes Kuning  Orange


҉ Penentuan larutan sampel
NO. Volume HCl/Sampel Indikator Volume NaOH Perubahan warna
1. 25 ml PP 3 tetes 18,4 ml Jernih  Merah muda
2. 25 ml PP 3 tetes 18,6 ml Jernih  Merah muda
3. 25 ml PP 3 tetes 18,8 ml Jernih  Merah muda

PERHITUNGAN
Ѽ Pembuatan NaOH 0,1 N
Massa NaOH yang ditimbang = 1,047 gram
N NaOH=(Massa NaOH)/(BE NaOH) x 1000/(V (ml))
Massa NaOH = N NaOH x BE NaOH x V (ml) : 1000
=(0,1 N)x (40 gr/mol)/1 x (250 ml)/(1000 ml)
= 1 gram
Ѽ Penentuan normalitas larutan NaOH 0,1 N dengan asam oksalat.
₰ Normalitas asam oksalat
Massa asam oksalat = 0,632 gram
BM asam oksalat = 126,07 gr/mol
Volume asam oksalat = 100 ml

Maka,
N C2H2O4.H2O=(M C2H2O4.H2O)/(BE C2H2O4.H2O) x 1000/(V (ml))
N C2H2O4.H2O=(0,632 gram)/(126,07/2) x 1000/100
= 0,1003 N
₰ Volume NaOH
V rata NaOH=( 24 +23,6 + 24 )ml/3
= 23,87 ml
Normalitas NaOH
V NaOH x N NaOH = V Oksalat x N Oksalat
N NaOH = (V Oksalat x N Oksalat)/(V NaOH)
N NaOH = ((25 ml)(0,1003))/(23,87 ml)
= 0,105 N
Ѽ Pembuatan larutan HCl 0,1 N
Volume HCl yang harus diambil : ± 0,83 ml
BM HCl pekat : 36,5 g/mol
BD HCl pekat : 1,19 gr/ml
Prosen HCl pekat : 37 %
Volume pengenceran : 100 ml

x=(N x V x M)/(10n x K x L)

x=((0,1 N)x (100)x (36,5))/(10(1)x (37)x (1,19))
x= 0,83 ml ( diencerkan menjadi 100 ml)
Ѽ Penentuan massa Natrium Borat yang diambil
Mr Na-Borat = 381,37 gr/mol
Volume pelarutan = 100 ml
N Na-Borat = 0,1 N
0,1 N dalam 100 ml
0,1 N = 0,1 grek/L
Mol = 0,1/2 L
= (0,05 mol x 381,37 gr/mol x 100 ml)/(1000 ml)
= 1,907 gram (pembulatan)
Ѽ Penentuan Normalitas HCl :
V Na-Borrat = ((30,4+30,3+30,7 ))/3
= 30,467 ml
N Na-Borat = (m Na-Borat)/Be x 1000/V
= (1,903 gr)/((381,37/2)(gr/mol)) x 1000/100
= 0,0998 N
VHCl x NHCl = V Na2B4O7 x N Na2B4O7
NHCl = (V Na2B4O7 xN Na2B4O7)/VHCl
= (30,467 ml x 0,0998N)/(25 ml)
= 0,1216 N
Konsentrasi HCl sesungguhnya
x=(N x V x M)/(10n x K x L)

K=(N x V x m)/(10n x L x X)

=((0,1216 N)x (100)x (36,5))/(10(1)x (1,19)x 0,83 )
= 44,936 %
Penentuan Larutan sampel (HCl)
V sampel = 25 ml
V NaOH = (18,4+18,6+18,8 )ml/3 = 18,6 ml
N NaOH = 0,105 N
Vsampel x N sampel = V NaOH x N NaOH
25 ml x N sampel = 18,6 ml x 0,105 N
N sampel = (1,953 ml)/(25 ml)
= 0,078 N

PEMBAHASAN
Percobaan ini, praktikan bertujuan untuk dapat membuat larutan HCl 0,1 N, dapat melakukan standarisasi larutan HCl 0,1 N, dapat membuat larutan NaOH 0,1 N, dapat melakukan standarisasi larutan NaOH 0,1 N, dan dapat melakukan standarisasi cuplikan (sampel). Penggunaan larutan NaOH dan HCl sendiri didasarkan pada pengertian asidimitri dan alkalimetri itu sendiri. Asidimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar basa. Pada percobaan ini HCl distandarisasi dengan Na-Borat. Sedangkan alkalimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar asam. Pada percobaan ini, NaOH distandarisasi menggunakan asam oksalat.
Tujuan dari standarisasi adalah menentukan konsentrasi larutan setepat mungkin, sebab belum tentu dalam pembuatan HCl dan NaOH didapat normalitas 0,1 N,bisa kurang bisa lebih. Pada pembuatan larutan asam oksalat 0,1 N diperoleh perhitungan 0,1003 N sebab pada saat penimbangan padatannya tidak diperoleh tepat 0,63 gr, tetapi 0,632 gr. Begitu juga pada pembuatan Na-Borat, penimbangannya 1,903 gr seharusnya 1,906 gr, sehingga diperoleh normalitas sebesar 0,0998 N.
Percobaan pertama yaitu membuat larutan NaOH 0,1 N. NaOH adalah basa kuat yang dapat larut dalam air, dan biasanya digunakan untuk pembuatan larutan alkali standar, selain itu harganya juga murah. Tetapi NaOH harus di standarisasai terlebih dahulu karena tidak satupun dari hidroksida padat ini dapat diperoleh murni, sehingga suatu larutan standar tidak dapat dibuat dengan melarutkan suatu bobot yang diketahui dalam volume air tertentu. NaOH sangat higroskopis dan selalu terdapat sejumlah tertentu alkali karbonat dan air.
Pada percobaan ini, NaOH distandarisasi dengan asam oksalat karena agar lebih stabil dengan adanya 2 valensi pada asam oksalat. Dan untuk mengindikasi adanya perubahan pH maka digunakan indicator PP. Dengan adanya indicator PP, maka dapat diketahui titik ekivalen dengan berubahnya warna larutan dari bening menjadi merah muda. Dari hasil percobaan diketahui bahwa volume NaOH untuk titrasi adalah 23,87 ml sehingga normalitas NaOH hasil standarisasi yaitu 0,105 N.
Reaksi yang terjadi :
NaOH + (COOH)2 (COONa)2 + 2H2O
Reaksi indicator dengan titrant :

NaOH + In- NaIn- + OH-

Untuk pembuatan larutan HCL 0,1 N dari HCL 37% dalam 100 ml harus diambil ± 0,83 ml. Standarisasi HCl dengan Na-Borat menggunakan indicator MO (Metil Orange). Titrasi dihentikan setelah terjadi perubahan warna dari kuning menjadi orange. Terjadinya perubahan warna merupakan akibat reaksi yang menunjukkan perbedaan pH. Reaksi yang terjadi sebagai berikut :
Na2B4O7 + 5 H2O + 2 HCl 2 NaCl + 4 H3BO3
Reaksi indicator dengan titrant :
HCl + In-
Percobaan kedua yaitu menentukan normaitas larutan NaOH 0,1 N dengan asam oksalat.Pertama,dilakukan terlebih dahulu pengenceran asam oksalat 0,63 gram ke dalam erlenmeyer 100 ml.Setelah dilakukak pengenceran,selanjutnya dilakukan titrasi dengan maksud mencari titik ekivalen atau titik akhir titrasi guna standarisasi normalitas larutan NaOH dengan asam oksalat.titik ekivalen atau titik akhir titrasi selesai dilakukan saat terjadi perubahan warna.Untuk mengetahui adanya perubahan warna,digunakan indicator PP yang dicampur pada larutan oksalat.Saat dititrasi,larutan oksalat berwarna jernih dan setelah dititrasi dengan NaOH,ternyata terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang menghabiskan volume NaOH sebanyak 24,7 ml. Setelah diperoleh beberapa data,didapat nilai normalitas oksalat sebesar 0,0999 N.
Percobaan selanjutnya yaitu membuat larutan HCl 0,1 N.dimana akan dibuat larutan HCl 0,1 N sebanyak 100 ml.Metode yang digunakan sama seperti yang sebelumnya yaitu dengan pengenceran.Hanya saja pada percobaan yang ketiga ini harus menentukan seberapa banyak volume HCl pekat yang diperlukan.Untuk melakukan perhitungan,terlebih dahulu dicari data-data seperti volume HCl yang diambil,berat molekul HCl pekat,massa jenis HCl pekat ,serta prosen HCl pekat nya.Setelah diperoleh data tersebut,didapat hasil bahwa diperlukan HCl sebanyak 1,227 ml.

Kemudian dilanjutkan dengan percobaan yang ke empat yaitu Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2B4O7.Dari percobaan diperoleh data massa Borat sebanyak 1,906 gram dan berat jenis Borat sebesar 381,37 gr/mol.Setelah dititrasi,diperoleh perubahan warna dari merah muda menjadi kuning.Percobaan yang terakhir yaitu penentuan larutan sampel 25% yang diambil 5ml dan diencerkan menjadi 250 ml diambil 10 ml untuk sampelnya dan setelah dilakukan titrasi ternyata dihabiskan volume NaOH rata sebanyak 12,05 ml.
KESIMPULAN

1.Pembuatan larutan NaOH dan HCl 0,1 N dapat dilakukan dengan pengenceran.
2.Pembuatan NaOH 0,1 N diperlukan massa NaOH seberat 1 gram.
3.Penentuan normalitas larutan NaOH 0,1 N dengan asam oksalat diperlukan volume sebanyak 24,7 ml.
4.Normalitas HCl sebesar 0,0811 N

1 komentar:

makasih ya ka, lumayan bisa buat laporan . xi xi xi . :)

Poskan Komentar